~"You won't get popularity without making a few haters"~ ♥━━Wolfsbane Witch 5067━━♥

Saturday, May 7, 2016

Tentang Pernikahan...

Berat... sekali... judulnya, kayak perasaanku saat ini.
First, I think I need a new diary, so I could write whatever there. I always write a diary since I was senior high.
Second, lucky, I only have a few, a little number, of followers here on blog. So I could write whatever I wanna write...

Aku tadi pagi curhat ke adik. Bilang, aku minggu ini cengeng banget. Sering nangis. Rasanya sedih lihat Dad sakit. Kadang, jogging, sengaja masuk hutan cuma buat numpang nangis di sana... Sepi, pulang melap air mata, dan pretend all is well.
Karena, kalau aku berulang kali nangis di rumah, siapa yang berperan 'jadi seseorang yang kuat' di rumah.

Get well soon Dad. I damn love you.

Hari ini habis salat, Dad bilang, "Jangan nangis aja ya," sambil mengelus punggungku.
Dad paham betul anaknya ini. Aku, dihantam masalah bertubi-tubi nggak nangis. Hanya emosi. Meredam emosi, melarikan diri dengan bercanda, dan semua oke.
Tapi minggu ini selama Dad sakit, aku nggak bisa kayak gitu. Yang ada, aku harus berhenti sedih---dengan melarikan diri, menyibukkan diri, mengerjakan apa pun, mantengin wassap di hape satunya.

Kata Dad, pohon semakin besar, angin yang menerjangnya semakin gede juga.
Tapi nggak ada jaminan pohon itu tetap bertahan kan. Mungkin ada bagian tertentu yang patah.
Selama ini, masalah apa pun... aku bisa memperkosanya. Tapi kalau menyangkut kesehatan ortu-- kalau aku ibarat pohon gede, rasanya ada ranting yang patah, ada kulit yang mengelupas, ada daun yang rontok, ada kambium yang mengering, dan itu menyakitkan. Sesak.
Berkali-kali aku mendongak, hanya supaya nggak nangis di depan Mom dan Dad. Karena kalau aku yang nggak biasa nangis ini nangis, Mom pun yang emang dasarnya rapuh bakalan ikut nangis....

Hari ini, Mom dan Dad, di sela kami berkumpul di ruang keluarga, bilang, mending aku cepat cari kenalan. Siapa tahu nanti bisa menjaga dan melindungiku. Mereka berbicara seperti itu setelah aku bercerita bahwa teman dekatku sepertinya akan dilangkahin, adiknya kemungkinan akan menikah duluan,
Aku hanya bilang ke mereka bahwa aku nggak siap.
Aku pengin, kalau ada cowok, dia bisa mengcover apa yang sudah dilakukan Dad ke aku: menjagaku, menenangkanku emosiku, menyayangiku, merawatku--dan rela bangun malam buat marutin kunyit tiap kali perutku melilit--ngrebusin pala tiap vertigo kambuh, ikutan begadang kalau aku lembur, nemani ke belakang tiap aku takut membaui atau melihat makhluk-makhluk di rumah belakang, mengkhawatirkanku etc etc etc.
Yah, aku nyaman sama Dad, dan kalau ortuku pengin aku segera dekat sama cowok dalam arti yang serius... aku pengin cwo itu yang bisa membuatku nyaman, yang bisa menggantikan Dad.
Dan sejauh ini nggak ada....

Aku punya teman cowok, banyak... tapi nggak ada yang kayak Dad.
Dan aku juga bilang ke Mom sama Dad, "Aku sampai sejauh ini terbiasa berjuang sendirian. Nggak bergantung pada orang. Nyelesaiin masalah sendiri. Jatuh sendiri, bangun sendiri, terluka begitu dalam. Apa ada yang nanti bisa mengimbangi?"

Dan kata Mom, "Nggak ada yang tahu takdir Tuhan. Siapa tahu begitu kamu cocok sama orang yang bersangkutan, kamu bisa nyaman sama dia. Semua perjuanganmu selama ini, jatuh bangunmu selama ini jadi kebahagiaan."

Setiap manusia memiliki alasan untuk bertahan dan berdiri tegak....

Minggu inu... rasanya remuk :')
Aku oke kalau lelah fisik karena terlalu capek kerja dan memaksakan diri. Namun, kalau berhubungan sama hati, gila... なんか大変。

Aku... kadang berpikir. Cintaku kepada kedua orangtuaku itu dalam... dalam...
Dan ini membuatku down dan sedih tiap kali tahu mereka ada dalam masalah atau sakit.
Mereka berdua merawat aku juga nggak main-main. Dulu waktu aku masih sakit-sakitan, tengah malam rela mengantar ke rumah sakit, nungguin dipriksa, disuntik, etc-etc.
Tiap hari membuatkan minuman herbal...
etc-etc...

Tapi, yang namanya orangtua, sudah biasa nggak mau membuat anaknya khawatir.
Dad sakit. Karena sakit jadi menjaga makanan, jatuhnya Dad kelihatan lebih kurus.
Wasir, tiap kali poop, keluar darah. Dan ini membuat Dad jadi enggan poop, takut perdarahan.
Kata kakak, emang wasir itu membuat enggan poop, sakit dan berdarah -- kakak juga punya wasir.

Dan itu... entah, tiap kali ortu sakit aku rasanya kacau.
Tiap kali aku kacau, aku akan bekerja lebih keras daripada siapa pun. Akan mengerjakan apa pun.
Kata temanku yang down karena patah hati, apa yang kulakukan ini gila. Aku punya kebiasaan gila.
Aku selalu memaksakan diri tiap kali ada masalah atau sedang kacau.

Tapi... tiap kali ada masalah, aku selalu butuh otakku untuk terus mikir dan berputar, agar aku nggak sedih. Agar aku nggak merasakan luka. Agar aku nggak merasa hampa...

Dad dan Mom alasanku tetap berdiri sampai saat ini.
Aku nggak peduli, sesusah apa pun masalah, selama ada mereka aku oke.
Melihat mereka tersenyum, rasanya senang.
Tahu bahwa diam-diam mereka membicarakan kita ke teman-temannya, aku lega dan merasa jadi anak berguna.
Melihat mereka sedih, aku rasanya remuk.
Melihat mereka sakit.... rasanya kacau.

Minggu ini aku benar-benar cengeng. Nangis diam-diam. Minta sama Tuhan agar menghentikan pendarahan Dad tiap ke belakang. Biar Dad bisa makan normal lagi, nggak lesu lagi...

Dan hari ini aku nangis di depan Dad.
バカ、私もっと強くになりたい!

Kata Dad, "Manusia itu sakit, menua, itu wajar. Terlebih orangtua. Apa yang perlu kita lakukan saat ada anggota keluarga yang sakit adalah sabar, berdoa, dan tetap tenang.
Hidup itu, bisa dikatakan senang ya senang, bisa dikatakan sedih ya sedih, bisa dikatakan berat ya berat, bisa dikatakan sengsara ya sengsara, bisa dikatakan ringan ya ringan. Tinggal gimana kita menjalankannya. Bapak sejak usia 20 tahun sudah berpisah dari Ibu, hidup mandiri. SD ditinggal ayah meninggal. Tapi karena itu Bapak berjuang."

Aku, dibanding dengan Mom, lebih dekat dengan Dad.
Entah kenapa. Tiap haid, dan emosi labil--curhatku ke Dad. Tiap ada masalah kerjaan--curhatku ke Dad. Uji coba resep, Dad yang nyobain... etc-etc-etc.

Makanya... Tuhan, aku ingin membuat kedua orangtuaku hidup nyaman dan bisa menikmati masa tua dengan bahagia. Jadi... jatuh seribu kali pun, kalau alasanku bertahan adalah mereka... aku kuat.